JANGAN LUPA SEJARAH KAI

Di berbagai media, kita amati gejalah bahwa ada penulis yang sibuk menginterpretasikan situasi masyarakat Kei saat ini menurut versi sejarah  parsial dan cenderung tidak menggali obyektifitas sejarah Kei dari awal. Kesalahpahaman, pembenaran diri dan atau kelompok mungkin saja berawal dari sikap mengabaikan nilai-nilai luhur masyarakat Kei yang telah dibangun dengan semangat kekeluargaan dalam proses sejarah yang panjang. Kita dengar dan mungkin pernah membaca tentang penduduk asli kei yang diklasifikasi dalam kelompok Alifuru. Tahap berikutnya para pendatang dari penjuru Indonesia dan menetap di tanah Kai. Disusul dengan perjalanan sejarah Kei di jaman penjajahan Potugis dan Belanda. Kita sekarang berada di era kemerdekaan bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Kita tertantang untuk mempelajari dan menghargai sejarah masyarakat Kei dari generasi ke generasi terutama hal-hal positif yang diwariskan kepada generasi ini. Perlu kita apresiasi secara kompreehensif.

Sebelum kedatangan tokoh yang dikenal dengan sebutan Dewa atau Kasdew yang sampai saat ini oleh orang Kei dikisahkan berasal dari Bali, telah ada para Halaai dengan komunitas masyarakatnya yang lebih dahulu meletakkan dasar nilai-nilai moral kultural kebudayaan Kei. Para pendatang lain mrnurut penuturan lisan beasal dari Maluku Tengah(Seram, Goram, Banda) dan Maluku Utara (Ternate dan Tidore) serta dari pulau Sulawesi(Bugis, Makasar),  dari Luang Leti. Mereka pada suatu masa hidup bersama di kepulauan Kai dengan kekhasan budaya mereka masing-masing,  saling  memperkaya dan menghasilkan kebudayaan Kei sekarang.

Seorang rekan yang pernah membaca tulusan saya di media ini, menanyakan latar belakang membuat group dengan judul  “NAPAK TILAS OHOIWUR” di Facebook . Group tersebut  adalah sebuah wadah diskusi tentang warisan sejarah luhur masyarakat Kei. Mungkin lebih familier jika saya sebut sebagai kelompok studi sejarah budaya Kei. Suatu saat kita bentuk lagi group atau Cuma sebatas diskusi tentang “Napak Tilas Ursiu-Lorlim””, “Napak Tilas Penghuni Gua Ohoidertawun”, “Napak Tilas Nufit” dll.

Mengapa kelompok diskusi begitu tematis? Ya, diskusi perlu lebih fokus akan satu hal agar terarah dan diharapkan dengan berbagi pengalaman dan pngetahuan, kita akan menemukan benang merah sejarah Kei secara komprehensif. Mungkin suatu saat ada putera-puteri  Kei yang punya waktu dan kemampuan untuk merangkaikannya menjadi sebuah dokumen sejarah Kei yang diharapkan dapat diajarkan di sekolah-sekolah di Kepulauan Kai sebagai muatan Lokal. Saya yakin bahwa apabila kita semakin paham tentang sejarah Kei, kita akan mengembangkan rasa cinta pada tanah Kai, yang masyarakatnya bhineka tunggal ika. Menurut saya, inilah misi kita membangun masyarakat Kei yang bersatu, aman dan damai didalam negara kesatuan Republik Indonesia.

Seberapa persenkah generasi muda Kei paham tentang sejarah Kei periode /era penghuni gua Ohoidertawun sampai era Kemerdekaan Republik Indonesia? kemudian era Proklamasi kemerdekaan RI sampai dengan era Pemekaran Kabupaten Maluku Tenggara?
Sebuah analogi sederhana yang perlu kita refleksi adalah gejalah saat ini kehidupan berbangsa Indonesia menghadapi tantangan peradaban dlm konteks Bhineka Tuggal Ika.

Daripada negara kita tercinta ini tercabik-cabik oleh egoisme pribadi tertentu atau kelompok kepentingan dengan mengedepankan ideologi lain di luar Pancasila dan UUD 1945, lebih baik kita sadar dan kembali mendalami Pancasila dan UUD 1945 apa adanya sesuai dengan motivasi dasar para pendiri negera Indonesia tercinta.

Dinamika kehidupan bangsa tidak akan kita jalani secara benar jika kita lupa pada sejarah berdirinya negara Kesatuan Republik Indonesia. “JANGAN LUPAKAN SEJARAH”. Itu BUKAN ungkapan kosong tak bermakna dari para pelopor kemerdekaan bangsa Indonesia. Sudah terbukti bahwa kecenderungan melupakan sejarah bangsa Indonesia dengan mengabaikan Pancasila dan UUD 45 sebagaimana dihendaki oleh masyarakat Indonesia saat negara kita ini dibentuk sebagai “SATU NUSA, SATU NAGSA, SATU TANAH AIR”, mengakibatkan begitu banyak problem sosial kita hadapi.

Ayo saudara, mari kita kembali mendalami sejarah Kei degan semagat persaudaraan, diperkuat dengan sikap intergritas dan intelektualitas putra-putri Kei. Kita pelajari sejarah kita untuk lebih memahami nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur kita. Kita ambil peluang utk menyejahterakan masyarakat melalui diskusi ilmiah di media apa saja.

Inilah salah satu cara interpretasi yang menurut saya saat ini perlu kita kembangkan untuk mewujudkan perjuangan orang Kei ” Foeng fo kut, fau fo banglu ” yang saya terjemahan bebas menurut maknanya adalah “ikatan yang berfungsi sebagai cahaya penerang dan kekuatan untuk melangkah maju bersama. Kita akan kuat melangkah ke masa depan yang damai sejahtera dengan semangat persaudaraan “ain ni ain” (terjemahan bebas: kita adalah saudara) karena bertolak dari jiwa kebersamaa.

“JANGAN LUPAKAN SEJARAH KEI”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: